Fatima Az-Zahra
Pada suatu hari di Madinah, ketika
Nabi Muhammad saw berada di masjid dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya
tercinta Fatima datang pada Nabi saw. Dia meminta dengat sangat pada ayahnya
untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan
tugas pekerjaan di rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatan yang buruk
ia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air di sumur
yang jauh letaknya di samping harus merawat anak-anaknya.
Nabi tampak terharu mendengar
permohonan si anak. Dengan menekan perasaannya, beliau berkata kepada sang anak
dengan sinis, "Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun
diantara mereka yang terlibat dalam pengabdian 'Ashab-e-Suffa. Sudah semestinya
kau dapat menanggung segala hal yang terberat di dunia ini, agar kau mendapat
pahalanya di akhirat nanti." Fatima lalu mengundurkan diri dengan rasa
yang amat puas karena jawaban Nabi saw, dan selnjutnya tidak pernah lagi mencari pelayan selama hidupnya.
Fatima az-Zahra si cantik dilahirkan
80 tahun sebelum Hijrah di Mekkah. Dibesarkan dibawah asuhan ayahnya, guru dan
dermawan yang terbesar bagi umat Islam. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima
memiliki pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang
lemah dan kesehatannya yang buruk menyebabkan ia terpisah dari kumpulan dan
permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yang agung itu
membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpati, dan tahu mana
yang benar.
Fatima sangat mirip dengan ayahnya,
baik roman muka maupun kebiasaan yang saleh. Ia adalah seorang anak perempuan
yang paling disayang ayahnya dan sangat berbakti kepada Nabi saw setelah ibunya
meninggal dunia. Dengan demikian, dialah yang sangat besar jasanya mengisi
kekosongan yang ditinggalkan ibunya.
Pada beberapa kesempatan, Nabi
Muhammad saw menunjukan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat
beliau berkata, "O Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak
senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi". Juga Nabi saw
dikabarkan telah berucap, "Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya
sedih berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya
berarti menyenangkan aku juga".
Aisyah, istri tercinta Nabi saw
pernah berkata: "Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok pribadi yang
lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya".
Abu Bakar dan Umar, keduanya berusaha
agar dapat menikah dengan Fatima, tetapi Nabi saw diam saja. Ali yang telah
dibesarkan oleh Nabi saw sendiri merasa ragu mencari jalan untuk dapat meminang
Fatima karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri
meminang dan langsung diterima oleh Nabi saw. Ali menjual kwiras (pelindung
dada dari kulit) miliknya yang dimenangkan saat perang Badar seharga 400
dirham, uangnya digunakan untuk mempersiapkan pesta pernikahannya. Upacara yang
amat sederhana, mencontohkan perlunya perayaan pernikahan tanpa jor-joran dan
serba pamer.
Fatima hampir berusia 18 tahun ketika
menikah dengan Ali. Sebagai mahar ia memperoleh sebuah tempat air dari
kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai
tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.
Kepada putrinya, Nabi saw berkata:
"Anakku, aku telah menikahkanmu dengan seorang laki-laki yang
kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi dari orang lainnya, dan seorang yang
menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan".
Kehidupan perkawinan Fatima berjalan
lancar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih dan tidak mengenal lelah.
Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya
bersikap rajin, hemat dan berbakti. Fatima melaksanakan tugas-tugas rumah
tangga seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan
suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan
pengemis melangkah dari pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai,
meskipun mereka sendiri masih lapar.
Sifat penuh perikemanusiaan dan murah
hati yang terletak pada keluarga Nabi saw tidak banyak tandingannya. Di dalam
catatan sejarah manusia, Fatima Az-Zahra terkenal dengan kemurahan hatinya.
Pada suatu waktu, seorang dari suku
bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi saw
melontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi saw menjawab dengan lemah-lembut.
Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia memeluk
agama Islam. Nabi lalu bertanya: "Apakah anda berbekal makanan?",
Jawab orang itu: "Tidak", Maka Nabi saw menanyai muslimin yang hadir
disitu: "Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta kepada tamu kita
ini?" Mu'ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati
dan melanjutkan: "Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain
untuk menutup kepala saudara seagama Islam?" Kepala orang itu tidak
memakai tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepaskan serbannya dam
menaruh di atas kepala orang itu. Kemudian Nabi saw minta kepada salman untuk
membaw orang itu ke tempat seorang yang dapat memberinya makan karena ia lapar.
Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatima, setelah mengetuk pintu Salman memberi
tahu maksud kunjungannya. Dengan mata berlinang putri Nabi ini mengatakan bahwa
di rumahnya tidak ada makanan sejak 3 hari yang lalu. Namun ia enggan menolak
seorang tamu, tuturnya: "Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar
tanap memberinya makan sampai kenyang". Fatima lalu melepas kain
kerudungnya dan memberikannya kepada Salman dengan permintaan agar dibawakan
kepada Shamoon seorang yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang
yang baru memeluk agama Islam itu sangat terharu. Orang yahudi itu pun sangat
terkesan atas kemurahan hati putri Nabi hingga akhirnya ia memeluk agama Islam,
dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang
berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.
Salman balik ke rumah Fatima dengan
membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri Fatima menggiling dan membakarnya
menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatima menyisihkan beberapa buah roti
untuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak
berbuat demikian, karena telah memberikan kain kerudungnya untuk kepentingan
Allah.
Fatima dianugerahi 5 orang anak, tiga
putra: Hasan, Husein, Muhsin, dan 2 putri: Zainab dan Ummi Kalsum. Muhsin
meninggal dunia waktu masih kecil.
Fatima merawat luka Nabi saw
sepulangnya dari Perang Uhud, FAtima juga ikut berperang merebut Mekkah, juga
ikut Nabi saw melaksanakan iabadah Haji Wadaq pada akhir tahun 11 Hijriah.
Dalam perjalanan haji terakhir ini
Nabi saw jatuh sakit, Fatima tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur.
Ketika itu Nabi saw membisikan sesuatu kekkuping Fatima yang membuatnya
menangis, dan kemudian membisikan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Setelah Nabi saw wafat Fatima
menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikan berita kematiannya,
itulah yang membuatnya menangis, tapi waktu Nabi saw mengatakan bahwa
Fatima-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di alam baka, maka
Fatima menjadi bahagia.
Enam bulan setelah Nabi saw wafat,
Fatima meninggal dunia ada usia 28 tahun. Dimakamkan oleh Ali di Janat
ul-Baqih, Madinah dengan diantar duka cita masyarakat luas.
Fatima telah menjadi simbol segala
yang suci dalam diri wanita dan pada konsepsi manusia yang paling mulia. Nabi
saw sendiri menyatakan Fatima akan menjadi 'Ratu segenap wanita yang berada di
Surga'.

0 comments:
Post a Comment